Pembasahan Gambut Jadi Andalan TDK Kahayan Hilir Cegah Karhutla

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0;
brp_mask:0;
brp_del_th:null;
brp_del_sen:null;
delta:null;
module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 32768;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;albedo:  ;confidence:  ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 41;

Pulang Pisau – Tim Darurat Karhutla (TDK) Kahayan Hilir mengutamakan pembasahan lahan gambut sebagai langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah kawasan rawan di Kecamatan Kahayan Hilir. Upaya tersebut dinilai lebih efektif untuk menjaga kelembapan lahan dan mencegah munculnya titik api dibanding hanya mengandalkan patroli lapangan. Kamis (18/6/2026)

Komandan TDK Kahayan Hilir, Sarianto, mengatakan terdapat dua titik yang menjadi perhatian utama dalam upaya pencegahan karhutla, yakni kawasan perbatasan Desa Kanamit Barat dan Desa Buntoi serta wilayah antara Desa Gohong dan Desa Garung.

“Kawasan perbatasan Kanamit Barat dan Buntoi merupakan daerah yang sering mengalami kebakaran. Karena itu patroli rutin terus kami lakukan untuk meminimalkan potensi terjadinya karhutla,” kata Sarianto.

Selain itu, kawasan antara Desa Gohong dan Desa Garung juga menjadi fokus patroli karena memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.

“Kawasan Gohong dan Garung juga termasuk daerah rawan karhutla sehingga menjadi lokasi patroli yang dilakukan secara berkala untuk mencegah terulangnya kebakaran seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Menurut Sarianto, kondisi lahan gambut yang mulai mengalami penurunan kadar air perlu mendapat perhatian serius. Oleh sebab itu, pembasahan lahan dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga kelembapan tanah.

“Kondisi alam menunjukkan persediaan air di permukaan lahan mulai berkurang dan tanah semakin kering. Pembasahan gambut menjadi langkah yang lebih efektif untuk menjaga kelembapan tanah dan mencegah munculnya titik api,” jelasnya.

Ia menegaskan, patroli berfungsi sebagai sarana pemantauan kondisi lapangan, sementara pembasahan lahan merupakan tindakan nyata untuk mengurangi risiko terjadinya kebakaran.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pulang Pisau, Herman Wibowo, mengatakan penanganan karhutla memerlukan keterlibatan berbagai pihak karena tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja.

“Penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi banyak pihak agar upaya pencegahan dan penanggulangan dapat berjalan optimal,” ujarnya.

Herman menjelaskan, patroli lapangan mengacu pada data dari aplikasi Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi), namun setiap hotspot yang terdeteksi tetap harus diverifikasi langsung di lapangan.

“Hotspot yang terbaca satelit belum tentu menunjukkan adanya kebakaran sehingga perlu dilakukan pengecekan langsung atau ground check,” katanya.

Ia menyebutkan, hingga 2 Juni 2026 hanya terdapat dua hotspot yang terpantau di Kecamatan Kahayan Hilir dan lokasinya tidak berada di wilayah yang menjadi fokus kegiatan saat ini.

Selain patroli dan pemantauan, BPBD juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Herman, menjaga ketersediaan air di kawasan gambut menjadi faktor penting dalam pencegahan karhutla, terutama saat memasuki musim kemarau. Oleh karena itu, saluran-saluran air yang ada perlu dimanfaatkan untuk mempertahankan kelembapan lahan dan mengurangi risiko kebakaran.(zass)

WhatsApp Image 2026-01-15 at 19.53.38
WhatsApp Image 2026-01-15 at 20.21.20

Opini

keagamaan

Olahraga & Otomotif

Hiburan & Gaya Hidup

Seni & Budaya

WhatsApp Image 2026-01-15 at 20.21.21
Flayer Hari Jadi APDESI
WhatsApp Image 2026-02-17 at 12.26.37
WhatsApp Image 2026-02-17 at 11.00.18
WhatsApp Image 2026-02-18 at 14.16.56

Berita Populer

Hukum & Kriminal

Politik

Ekonomi

Lifestyle

WhatsApp Image 2026-01-15 at 20.21.21